Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Kamis, 05 November 2009

Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog

Delapan Kesalahan Umum dalam Membuat Dialog

Posted on 02. Dec, 2008 by admin in Kiat Penulisan

DialogDialog dalam sebuah karangan fiksi berfungsi sebagai penggerak cerita selain berguna juga untuk memperkuat karakter tokoh dalam cerita. Selain itu, dialog juga dapat membuat cerita menjadi lebih dinamis. Dialog antar tokoh dalam cerita apabila dikemas bisa pula menjadi “cara halus” untuk menyampaikan pesan-pesan moral tanpa terkesan menggurui.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:
1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak. Dialog semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun, namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat. Pelajaran pertama dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.

2. Mengulang-ulang maksud dalam beberapa potong kalimat. Meskipun dialog sedapat mungkin dibuat agar nyata, namun dialog yang bertele-tele akan membosankan pembaca. Cukup membuat satu kalimat saja untuk menyampaikan sebuah maksud spesifik. Hal ini tentunya akan berlaku lain apabila Anda dengan sengaja ingin menciptakan kesan tokoh yang peragu atau obsesif kompulsif. Namun demikian, terlalu banyak efek justru akan berbalik menjadi bumerang bagi Anda. Dialog yang terlalu panjang juga akan menghambat pergerakan cerita. Jadi rumusnya, bijaksanalah dalam menuliskan dialog.

3. Tidak memperhatikan siapa yang berbicara apa. Sering kali kita mendapatkan beberapa dialog ditumpukkan tanpa menyebutkan siapa yang berbicara, seperti contohnya di bawah ini:
“Kamu kemarin pulang jam berapa?”
“Jam satu, kenapa?:
“Oh, tidak aku hanya penasaran siapa yang membuka pintu kulkas sekitar jam dua belasan…”
“Kamu yakin mendengar suara itu?”
“Ehm, iya. Tapi sekarang aku jadi agak ragu.”
“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hantu yang menjaga rumah ini?”
Ini sah-sah saja apabila kebetulan dialog itu hanya terjadi antara dua orang tokoh. Namun apabila tokoh yang ada lebih dari dua orang maka ceritanya jadi lain. Jika penulis tidak mencantumkan siapa yang berbicara, pembaca mungkin menjadi bingung untuk mengidentifikasi si pembicara. Namun terlalu banyak memberikan nama juga dapat menjemukan. Hal ini bias diakali dengan cara menyelinginya dengan tanda-tanda yang mengarah kepada totkoh tertentu. Seperti misalnya di bawah ini:
“Kamu pasti lupa membawa buku itu!” Tuduh Andi.
“Buku apa?” Tanya balik Rizal sambil memainkan rambutnya yang ikal.
“Buku harian Bu Nindi, Bodoh!” Andi tidak dapat menahan amarahnya.
“Oh itu…” Jawab si pemilik rambut ikal itu dengan enteng.
4. Menggunakan “dia” secara tidak cermat sehingga membuat pembaca bingung “dia” tersebut mengacu pada siapa. Hal ini sering terjadi pada dialog yang menceritakan beberapa orang. Ketika si tokoh mengatakan “dia” sebaiknya secara tepat mengacu pada sasaran yang dituju, seperti contoh di bawah ini:
“Kemarin aku bertemu dengan Dinda. Ia jalan sama cowok lain. Tahu nggak siapa orang itu? Dito! Dito yang itu…., Na!”
“Apanya yang heboh? Dia kan emang terkenal suka gonta-ganti pacar, kan?”

5. Melekatkan gaya berbicara yang sama kepada setiap tokoh. Tentunya setiap tokoh memiliki karakter unik. Keunikan itu juga salah satu di antaranya tercermin dari cara si tokoh tersebut berbicara. Penciptaan cara berbicara yang menjadi trademark, entah itu dari pemilihan diksi atau dialek, bagi seorang tokoh tertentu bisa membuat kehadirannya menjadi nyata.

6. Terlalu kaku dalam menggunakan narasi pengantar. Narasi pengantar yang umumnya digunakan adalah ”kata”, ”ujar”, ”tanya”, dan ”perintah”. Seperti contoh di bawah ini:
”Kita akan pergi besok,” ujar bapak.
”Pergi ke mana?” Tanyaku.
”Ke tempat kelahiran ibumu,” kata bapak.
Cobalah untuk mengeksplorasi istilah-istilah yang lain seperti misalnya: ”kilah”, ”lanjut”, ”potong”, ”tebak”, ”gumam”, ”bisik”, dll.

7. Menulis dialog terlalu panjang. Terkadang sebagai seorang penulis, kita tidak sabar untuk menyampaikan begitu banyaknya informasi kepada pembaca sehingga tanpa sadar dialog si tokoh jadi mengembang. Sebenarnya dialog yang panjang berpotensi besar untuk membunuh ketertarikan orang dalam membacanya tuntas. Panjangnya dialog juga bisa membuat suasana eksternal (setting, waktu, dll) yang coba untuk dibangun oleh si penulis menjadi kabur. Jika seandainya dialog memang dibutuhkan panjang, maka seyogyanya untuk memenggalnya menjadi beberapa bagian.
“Aku percaya ada beberapa orang yang ditakdirkan berbakat secara supernatural. Misalnya aku yang juga dianugerahi bakat cenayang. Namun aku pun masih tetap harus belajar untuk menajamkan kemampuanku. ….”
Cassandra mengambil beberapa bendel dokumen dari dalam tas kerjanya.
“Menurut dokumen ini, ada beberapa macam cenayang –yang kutahu– dilihat dari cara mereka menangkap pesan dan mendeteksi keberadaan fenomena supernatural….,” sambung Cassandra. (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)

8. Hanya mengandalkan dialog saja untuk menciptakan situasi yang diinginkan. Penggunaan dialog yang terlalu sering, tanpa diselingin jeda penjelasan narasi, akan membuat alur cerita berjalan dengan cepat. Gaya seperti ini cocok untuk cerita detektif atau thriller. Namun untuk cerita yang sifatnya lebih umum, gaya seperti ini tidak selalu cocok. Kekurangan dari gaya dialog yang sambung-menyambung adalah kurang dalamnya pelukisan tentang situasi yang tengah terjadi. Contoh:
”Pak Hugo, mengapa Anda harus membawa..ta..tas itu? Bukannya malah semakin berat?” Tanya Roni merasa aneh melihat Hugo memanggul tas besar yang diikatkan dengan erat pada tubuhnya.
“Oh…, ini?” Hugo menjawab di sela-sela napasnya yang memburu. “Kupikir ini akan bisa menyelamatkanku nantinya. Siapa tahu?”
Sementara itu mereka bertiga berlari semakin jauh ke dalam hutan. Malam sudah sedemikian pekat sehingga Hugo dan Rani hanya bisa mengandalkan senter dan Cassandra yang berlari mendehului mereka, dan yang secara tidak langsung telah membukakan jalan bagi mereka berdua. Cassandra melompati akar sebuah pohon yang melata lumayan tinggi di atas permukaan tanah dengan lihai seakan-akan hutan ini adalah taman bermain Cassandra sejak kecil. Hugo dan Roni lagi-lagi dibuat terpukau oleh kemampuan wanita ini.
”Seno!!” Teriak Cassandra.
Sayup-sayup terdengar suara.
”Di sini…..” (Dipetik dari Novel ORB: Galang Lufityanto)
Dengan menyelipkan beberapa pokok narasi (dalam contoh: Sementara itu mereka…..) di antara baris-baris dialog, pembaca dapat melihat adegan cerita sebagai suatu keseluruhan: karakter beserta situasi di sekelilingnya. Ini membuat pembaca mendapat bayangan yang jelas tentang adegan yang berlangsung dan merasakan emosi yang berusaha dibangun oleh si penulis.

Galang Lufityanto

Source: http://yogya.forumlingkarpena.net/2008/05/22/writing-tips-delapan-kesalahan-umum-dalam-membuat-dialog/

Blog Entry

Hi hi, nama aku jessi.. aq manggilny kak niken aj ya.. =)


yg pertm salam kenal ya kak.. aq suka novel yg kakak tulis.. dan aku mulai tertarik untuk belajar nulis novel..

kakak bs ngga ngajarin aq gimana cara nulis novel.. soalny setelah aq baca berulang" novel yg kakak tulis. rasany kakak dengan luwes n gampang bs nyusun kata" ngedeskripsiin suasana dan kakak bs menulis kutipan" yang dibicarakan orang" dan disususn dengan rapi di novel yg kakak buat.. aku masih bingung gimana caranya memilah milih, serta menyusun percakapan diantara cerita yang aku ingin ceritakan kepada pembaca..

hmm, sangat menunggu balasan dari kak niken..
thx ya kak udah meluangkan waktu membaca emailku ini,..
=) sukses ya..



Hai Jessi, makasih banget buat pertanyaannya. Percakapan dalam tulisan memang bukan perkara gampang. Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan, misalnya kata kerja untuk membuat kutipan itu, susunan kalimatnya lalu format dan tanda bacanya. Yuk kita bahas satu persatu.



Pertama soal kata kerja yang kita pakai. Bosen juga ya kalau kita pakai ‘kata’ atau ‘berkata’ tiap kali kita mengutip percakapan.



“Hei, apa kabar?” Arya berkata.

“Eng, nggak begitu baik,” kata Sinta.



Supaya nggak garing, coba variasikan dengan kata-kata lain. Banyak loh kata kerja yang bisa kita pakai untuk mengutip. Pas aku belajar menulis bersama anak-anak Kansas (http://shokodouofsastra.multiply.com/) mereka bisa lho mengumpulkan lebih dari empat puluh kata buat menggantikan kata ‘berkata’ ini, mulai dari: berujar, menyahut, berteriak, menjerit, berbisik, sampai mendesah, bertanya, menjawab, mengomel, menukas.



“Hei, apa kabar?” tanya Arya.

“Eng, nggak begitu baik,” Rika mendesah.

“Ada masalah apa, Rik?”

“Nggak, nggak penting sih,” Rika mengelak seraya beranjak.



Dialog tidak harus diikuti dengan kata kerja mengutip misalnya ‘berkata’ atau ‘berujar’. Langsung diikuti dengan kalimat yang menunjukkan tindakan si karakter pun bisa. Bila karakter dan alur percakapannya sudah jelas, kita bisa membuatnya seperti ini.



“Aku pergi dulu.” Rika bangkit dan menyambar jaketnya.

“Eh, mau ke mana?” Arya tidak jadi meminum kopinya.



Dalam dua kalimat di atas penulis tidak mencatumkan kata kerja mengutip untuk menunjukkan siapa yang berbicara. Tapi kalimat berikutnya sudah cukup menjelaskan.







Nah sekarang kita bahas susunan kalimatnya. Ada berbagai kombinasi yang bisa kita pakai.



1. Dialog + kalimat

“Yeah, aku memang udah bosen pacaran sama kamu,” ungkap Prita akhirnya.

“Bosen? Nggak bisa cari alasan yang lebih bermutu?” Rinto menyahut ketus.



2. Kalimat + dialog

Dia menjerit keras, “Arrrrgkkkhhh, tolong.”

Sambil sesenggukan ia berkata terbata-bata, “Say … saya nggak bersalah, Pak.”



3. Kalimat + dialog + kalimat

Aku mengomel, “Emangnya kalau elo cowok gue, terus elo bisa ngatur hidp gue gitu? Bokap gue aja nggak segitunya,” lalu kumatikan HP-ku dengan kesal.



4. Dialog + kalimat + dialog

“Ini rahasia besar, Son,” bisikku, “janji nggak ngomong sama siapa pun?”



5. Dialog saja (untuk dialog yang cukup panjang oleh dua orang. Bila karakternya lebih dari dua, pola seperti ini akan membingungkan)

“Kamu dengar nggak?” tanyaku

“Dengar apa?” ia balas bertanya.

“Gosip itu.”

“Gosip apa?”

“Gosipnya si kucing meong ama kucing garong.”

“Emang ada kucing? Kucing siapa? Kucing apa?”

“Iiiihhh, susah banget ngomong ama kamu.”



Nah, sekarang kita bicarakan format dan tanda bacanya. Intinya alur percakapan harus dibuat sesimpel mungkin hingga tidak membingungkan. Siapa mengatakan apa harus jelas. Itulah mengapa dialog sebaiknya berdiri sendiri. Bila diikuti oleh dialog lain, maka sebaiknya masukkan dialog berikutnya dalam paragraf baru. Misalnya:



“Hai, aku Nina.”

“Aku Frans.”

“Kamu sekolah di sini juga?” aku mencari-cari bahan pembicaraan.

“Kayaknya iya sih.” Ia melihat badge di lengan bajunya. Haha, dia lucu.



Bila kalimat itu tidak dipecah dalam paragraf-paragraf baru akibatnya nggak bakal enak dibaca, kayak gini:

“Hai, aku Nina.” “Aku Frans.” “Kamu sekolah di sini juga?” aku mencari-cari bahan pembicaraan. “Kayaknya iya sih.” Ia melihat badge di lengannya. Haha, dia lucu.



Oke, next adalah tanda baca. Yang ini gampang. Pada intinya, setiap dialog diawali dengan tanda petik dan diakhiri dengan tanda petik pembuka (“) dan tanda petik penutup (”). Sebelum tanda petik penutup letakkan tanda baca yang sesuai, seperti tanda tanya (?), tanda seru (!), koma (,) atau titik (.). Contohnya seperti ini:



“Kapan ya kita bisa pergi bareng-bareng lagi?” tanya Ajeng.

“Kapan-kapan deh. Kalau nggak lagi bokek,” sahut Mirna.



Berikut adalah contoh yang salah:

“Kapan ya kita bisa pergi bareng-bareng lagi”? tanya Ajeng.

“Kapan-kapan deh. Kalau nggak lagi bokek”, sahut Mirna.



Jangan lupa aturan huruf kapital tetap berlaku di sini. Bila huruf pertama dalam dialogmu adalah huruf pertama dalam kalimat, maka kamu harus menggunakan huruf kapital, seperti contoh di atas.



Hal ini juga berlaku untuk kalimat setelah dialog. Bila dialogmu diakhiri dengan tanda titik, maka huruf pertama pada kalimat selanjutnya harus menggunakan huruf kapital.



Contoh:

“Apa yang harus aku lakukan, Sin?” Ia kembali mondar-mandir di ruangan itu.

“Ehm … yang harus kamu lakukan adalah duduk dan tidak mondar-mandir kayak gitu,” sahutku jengkel.



Masih ada pertanyaan? Silakan kirimkan via e-mail ke: kenterate@yahoo.com

Penulisan Naskah (Skennario) Program TV

Penulisan Naskah (Skennario) Program TV

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Juli 16, 2009

Dengan makin banyaknya stasiun televisi di Indonesia, menumbuhkan pula industri dibidang produksi pertelevisian atau yg dikenal dengan rumah produksi (production house =PH).

Produksi program video dan juga program TV dapat dikerjakan dari yang sederhana sampai dengan menggunakan peralatan dan tehnik canggih. Sebuah produksi video/TV memerlukan pengelolaan yang rumit meliputi: pra produksi; konsep, ide/gagasan, survey, naskah/story board, anggaran; produksi; peralatan, kru, pengambilan gambar; pos produksi; editing dan penggadaan, namun demikian tiga pilar utama yang utama, yaitu : penulisan naskah produksi, Penggunaan kamera, dan editing, untuk dapat mewujudkan sebuah produksi.

Penulisan Naskah untuk film, televisi, termasuk video, lazim dengan istilah scenario (scenario). Skenario merupakan bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut penggabungan antara gambar dan suara, dimaksudkan sebagai pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program televisi. Beberapa pakar sinematografi mengemukakan bahwa scenario itu menjadi jiwa dan darah dalam produksi film atau cerita televisi.

Urutan langkah atau pentahapan dalam penyusunan naskah scenario video

a. Persiapan Menulis naskah/ Teks / Narasi

Yang harus dipersiapkan dalam menulis naskah, teks maupun narasi pada program TV adalah menemukan ide atau gagasan. Setelah ide ditemukan, seorang penulis naskah sangat perlu mempelajari substansi atau isi dari sumber-sumber yang terkait dengan substansinya, sehingga benar-benar memahami apa yang akan ditulis. Selanjutnya akan ditulis dalam bentuk apa, menjadi format program TV yang mana. Setelah ditetapkan format program yang dipilih maka baru berpikir bagaimana menulisnya. Untuk penulisan teks dapat diawali dengan penulisan kerangka tulisan (outline). Sedangkan untuk penulisan narasi dapat dilakukan menulis rencana gambaran visual yang akan diberi narasinya. Dalam hal ini narasi akan lebih memberikan penjelasan gambaran visual yang ditayangkan pada TV.

Narasi bisa berbentuk life dari pemeran ataupun dubing oleh pengisi suara. Dapat juga disuarakan oleh narator maupun presenter.

Sebelum menulis naskah untuk panduan produksi ditulis, biasanya didahului dengan membuat synopsis, dan Treatment

1) Sinopsis

Gambaran secara ringkas dan tepat tentang tema atau pokok materi yang akan dikerjakan. Tujuan utama ialah memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep, kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Setelah synopsis ditulis maka sudah harus nampak adanya: alur, isi cerita, Perwatakan pemain (bila ada), tempat, waktu, serta keterangan lain yang memperjelas synopsis.

2) Treatment

Uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis, yang dikembangkan dari synopsis dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.

Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

a) urutan dalam video sudah makin jelas,

b) Sudah kelihatan formatnya apakah dialog (bagaiamana pokok dialognya), narasi (bagaimana pokok narasinya),

c) Sudah dimulai adanya petunjuk-petunjuk tehnis yang diperlukan.

3) Skenario

Dari treatment kemudian dibuat naskah produksi atau scenario. Penulisan naskah produksi atau scenario harus operasional karena digunakan sebagai panduan tidak saja kerabat kerja (crew) tetapi juga pemain dan pendukung lain yang terlibat. Penulisan naskah atau scenario pada dasarnya menggambarkan sekaligus menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Urutan synopsis-tritmen-skenario merupakan rangkaian yang baik untuk membuat naskah video (televisi), Baker (1981) mengemukakan juga pentahapan dalam membuat naskah, yaitu : concept, story board, dan script.

Setidaknya ada dua format naskah untuk penulisan naskah TV/video, yaitu double colum, dan wide margin

a) Format kolom ganda (double colum).

Format ini lazim digunakan untuk menulis naskah informasi, dokumentasi, pendidikan. Format kolom ganda, lembar kertas dibagi menjadi dua kolom utama, yaitu kolom visual (kiri) dan kolom audio (kanan).

Pada kolom kiri berisi uraian yang menyangkut visual. Misal gambar harus dimabil dengan CU, kemudian zoom out, atau keterangan lain bagi kru kamera, termasuk siapa subyeknya, diambil dari mana, beberapa waktu lamanya pengambilan, dll.

Kolom kanan berisi segala sesuatu yang menyangkut audio yang berupa narasi, dialog para pelaku atau efek-efek suara lain yang diperlukan. Untuk memudahkan narator atau juru suara (sound man) maka dalam menulis kolom kanan, semua informasi yang tidak akan dibaca (disuarakan) ditulis dengan huruf capital. Sedang narasi atau dialog yang akan dibaca atau disuarakan ditulis dengan huruf kecil.

b) Format Wide Margin

Format ini lebih lazim dipakai dalam cerita film atau sinetron. Sinetron Aku cinta Indonesia (ACI) naskahnya distulis dalam format Wide Margin.

Dengan format wide margin tiap adegan (kumpulan dari beberapa shot-scene) diuraikan atau dijelaskan dengan bahasa visual. Petunjuk dialog diketik dua spasi ditengah, sedang apa yang akan nampak (visual) dijelaskan dalam bentuk paragraf .

Dialog biasanya diketik biasa, semua penjelasan untuk camerawan pengambilan gambar, ditulis dalam huruf capital. Penjelasan untuk tingkah laku pemain ditulis dalam tanda kurung dengan huruf capital pula.

Urutan penulisannya sebagai berikut

(1) Pertama kali ditulis : adegan (scene) ke….

(2) Gambar diambil dengan tehnik apa, misalnya :

F.1, DISSOLVE, IN FRAME.

(3) Gambaran visual yang akan nampak

(4) Dialog

Dengan format seperti ini maka pengarah acara (sutradara) dan camerawan diberi kebebasan untuk berimprovisasi dalam pengambilan gambarnya, sesuai dengan keadaan yang diinginkan.

b. Menilai Naskah/Teks/Narasi

Setelah naskah/teks/narasi ditulis, maka perlu ada evaluasi atau penilaian dari produser, sebelum naskah tersebut diproduksi menjadi program TV. Penilaian teks akan menggunakan kriteria apakah telah menggunakan kaidah penulisan dan penggunaan bahasa yang benar serta keterbacaannya..

Sedangkan untuk penilaian narasi akan lebih menggunakan bahasa sehari-hari (tutur)sesuai karakter tokoh. Apakah sudah komunikatip, shg mampu menjelaskan atau dipahami penonton.

Demikian pula untuk menilai naskah/script yang akan diproduksi disamping dengan kriteria penulisan naskah harus ditaati juga akan dinilai kelayakan produksinya, apakah setelah diproduksi akan memiliki tingkat manfaat yang tinggi, memiliki daya tarik, apakah dapat diproduksi secara teknik, biaya produksi mahal atau tidak dan sebagainya.

c. Mengedit Naskah/Teks/Narasi

Setelah naskah/teks/narasi dinilai penulis naskah akan melakukan editing, mengedit sesuai saran, masukan dari produser. Untuk editing naskah program TV akan dilakukan sekaligus dalam bentuk naskah produksi yang di dalamnya telah terdapat petunjuk/perintah bagi kamerawan tentang teknik shoting dan obyek shoting. Petunjuk/perintah bagi narator/presenter dalam membacakan narasi, durasi setiap scene dan sebagainya. Naskah ini selanjutnya digunakan sebagai panduan produksi.v

Format Skenario Film

Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine


Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine


Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine
Format Skenario Film
Agustus 10,
2008
Format skenario atau penyusunan skenario, bisa berbeda-beda tergantung gaya dan selera penulis skenario. Meski dari isi tidak banyak yang berbeda, format skenario memuat halhal sebagai berikut.

1 Judul Scene
Judul scena berisi: nomor scen;, keterangan luar/dalam ruangan biasanya memakai istilah exterior/interior, EXT/INT. ;keterangan yang menjelaskan tempat kejadian dan ruangnya, RUMAH MARKUS: RUANG TAMU; keterangan yang menjelaskan waktu kejadian, PAGI/ SIANG/ SORE/ MALAM (dalam penulisan internasional, keterangan waktu ini hanya dipakai DAY/NIGHT saja). Format tulisan di Indonesia biasanya memakai font Times New Roman, 12pt, Capital, Bold, Underline.

2 Nama Pemeran
Pada format penulisan internasional, nama pemeran tidak lazim dicantumkan. Tapi beberapa penulis di Indonesia sering mencantumkannya karena dianggap penting. Hal ini ada baiknya dan tidak ada salahnya memperlengkap tulisan kita, selain juga membantu kru, pemain, dan sutradara untuk mengetahui siapa saja pemain yang terlibat pada scene tersebut. Format penulisannya di bawah judul scene. Fon. Times New Roman, 12 pt, Capital.

3 Deskripsi Visual
Deskripsi ini berisi tentang keterangan suasana, tempat kejadian, dan peristiwa yang terkandung dalam scene tersebut. Contoh: Molam ini cuaca sangat buruk, hujan turun deras disertai petir yang menyambar bersahut-sahutan, tampak di kejauhan YANI berlari menembus kegelapan..., dst.
Jika ingin menuliskan tentang tokoh lain dengan kegiatan yang berbeda, buatlah di baris yang baru, tulislah dengan format italic, untuk membedakan dari huruf yang lain. Semua huruf kecil, kecuali nama tokoh di dalam deskripsi tersebut buat dengan huruf besar. Font: Times New Roman, 12pt.

4 Tokoh Dialog
Bagian ini hanya menerangkan nama dari tokoh yang sedang berdialog. Bagian ini perlu dituliskan agar orang tahu bahwa dialog tertentu disampaikan oleh tokoh tertentu. Tuliskan dengan posisi agak ke tengah, sejajar dengan kolom dialog. Beberapa orang menulisnya pada posisi tepat di tengah. Font: Times New Roman, 12 pt, Capital, Bold.

5 Beat
Beat dalam istilah musik berarti irama/tempo. Istilah tempo dalam skenario tak jauh berbeda dengan musik, hanya penitikberatan irama/ tempo tersebut ada pada emosi inner action tokoh yang akhirnya tersirat dalam ekspresi. Wahyu Sihombing, dosen penyutradaraan di IKJ mengemukakan bahwa beat adalah kata kerja aktif yang berisi pikiran, perasaan, dan emosi tokoh. Beat inilah yang menjadikan dialog yang diucapkan dan laku yang digerakkan si tokoh jadi memiliki arti dan motivasi. Contoh, (menyesali perbuatannya), (menangisi ibunya), (memarahi adiknya), dll.
Beat biasanya dituliskan dalam kurung, huruf kecil, letaknya di bawah posisi tokoh dialog, sejajar dengan dialog, bahkan bisa menyelip di antara kalimat dalam dialog. Font Times New Roman, 12 pt.

6 Dialog
Di bagian ini berisi kalimat dialog yang nantinya akan diucapkan oleh pemain. Dialog dibutuhkan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa dilakukan hanya dengan gerak dan gambar. Dialog harus mendukung karakter dan cerita. Dialog harus disesuaikan dengan hal-hal sebagai berikut.

A Siapa yang berdialog?
Dialog harus disesuaikan dengan peran tokoh. Jika dia adalah seorang tokoh protagonis, jangan diberi dialog dengan ucapan yang bernada sinis, lebih-lebih sebuah umpatan. Sebaliknya jika dia adalah tokoh antagonis, tentunya tidak mungkin jika kata-kata yang diucap-kannya terkesan orang baik. Meski bukannya tidak mungkin muncul kata-kata manis dari tokoh antagonis, tapi mesti ada action yang menunjukkan ekspresi kelicikannya. Jika yang berbicara anak-anak, kata-kata harus menggunakan bahasa anak.

B Dengan siapa dia berdialog?
Kita harus paham hubungan antara tokoh yang satu dan tokoh yang diajak bicara. Cara berdialog pun harus kita sesuaikan. Pembicaraan antarteman, tentunya berbeda dengan pembicaraan antara orang tua dengan anaknya, atau antara guru dengan muridnya, atau juga antara suami dengan istrinya. Tak mungkin seorang murid memanggil gurunya, "Heh, sini dong.... Saya mau tanya nih!"

C Apa latar belakangnya?
Dialog tak boleh lepas dari latar belakang tokoh yang sedang berbicara. Cara berbicara seorang yang berpendidikan tinggi, berbeda dengan cara bicara orang yang berpendidikan rendah, atau yang tidak berpendidikan sama sekali. Topik pembicaraannya pun pasti berbeda. Begitu juga dengan latar belakang budaya. Salah satu perbedaan misalnya bisa dilihat dari cara berbicara. Orang Jawa Timur yang diwakili oleh orang Surabaya memiliki cara berbicara yang lebih lantang dan terkesan apa adanya sehingga pilihan dialognya juga akan lebih dinamis dan praktis. Berbeda dengan orang yang berasal dari Jawa Tengah yang diwakili oleh orang Solo, akan berbicara lebih halus dan lambat, hingga pilihan dialognya pun cenderung banyak basa-basi. Contoh: Adegan seorang ibu sedang makan di rumahnya.
Santos dan Tejo, teman akrab anaknya baru datang. Santos adalah orang Surabaya, sementara Tejo adalah orang Solo. Ibu itu bermaksud menawari mereka makan dengan pertanyaan, "Kalian sudah makan...?"
Santos menjawab, "Belum, Bu."
Sementara Tejo, "Ah... nanti saja, Bu, masih kenyang".
Perhatikan perbedaan dialog dua tokoh tersebut. Jawaban mereka sama-sama
belum makan, tetapi pilihan kalimatnya berbeda.

D Di mana berdialognya?
Masalah tempat juga bisa menjadi hal yang penting saat membuat dialog. Kita berbicara di depan umum akan berbeda dengan saat kita berbicara di dalam ruangan. Contoh lebih konkret, bayangkan betapa akan berbedanya dialog pertengkaran sepasang suami istri di dalam kamar dengan di sebuah mal. Misalnya, seorang istri memergoki suaminya berduaan dengan seorang wanita di sebuah mal, kemarahannya kira-kira sebatas, "Kenapa Papa bisa berbuat setega ini pada Mama...? Ayo pulang, Pa! Kita bicarakan ini di rumah!" Suami yang kepergok paling Cuma bisa bilang, "Tenang, Ma, sabar.... Nanti Papa jelaskan." Tapi, begitu sudah sampai di kamar, si istri bisa saja berkata, "Pelacur dari mana yang Papa bawa tadi...?" Sementara jawaban sang suami di kamar bisa menjadi, "Selama ini kamu tidak bisa memuaskan saya. Apa salahnya saya mencari wanita lain?"
Contoh di atas tentunya bukanlah hal yang mutlak. Tetap harus dilihat latar belakang dari sepasang suami istri itu. Mengingat bisa saja ucapan yang terlontar kasar seperti itu, selain karena si istri yang pencemburu, juga akibat latar belakang pendidikan yang rendah, dan sebagainya. Yang pasti setiap penyimpangan yang akan dimunculkan, haruslah memiliki alasan yang jelas.

E Suasana hatinya bagaimana?
Membuat dialog juga perlu disesuaikan dengan suasana hati si tokoh yang berbicara. Jika tokoh sedang dalam keadaan gembira, pilihan kalimatnya pun tentu tidak bisa sedih. Contoh, si tokoh baru saja putus dari pacarnya. Siang harinya, seorang teman di kampusnya bertanya, "Mimin, Ema tadi ke mana ya...? Lihat nggak.” Jawaban si tokoh itu bisa saja, "Tau tuh". Padahal sebelumnya ada adegan si tokoh melihat Ema. Kekesalan
Mimin terhadap pacarnya, membuat ia malas berbicara.

F Apa tujuan dialog tersebut?
Pembuatan dialog juga perlu disesuaikan dengan tujuan si tokoh berbicara. Jika tujuannya
adalah untuk memohon sesuatu, tentunya bukanlah kata-kata pedas yang akan dipilih sebagai isi dialog. Atau, jika tujuannya adalah untuk mendidik tokoh lain maka pilihan dialognya pun harus bisa lebih bijak. Misalnya, seseorang yang hendak meminjam uang tentunya tidak bisa berdialog dengan kalimat, "Bisa nggak bisa, kamu harus menyediakan uang. Saya mau pinjam nih!" Pilihan dialog yang baik, "Bulan ini saya belum bayar listrik, telepon, dan air, saya tidak tahu harus cari ke mana. Kalau tak keberatan, mungkin kamu bisa membantu saya...?"
Dua perbedaan contoh tersebut bukanlah contoh mutlak karena bisa saja dialog pertama diucapkan oleh tokoh antagonis dengan sikap mengancam sehingga cara meminjam uangnya pun menjadi kasar. Dalam membuat kalimat untuk dialog, beberapa hal tadi haruslah menjadi pertimbangan. Namun yang perlu diingat, kalimat dalam dialog tidak perlu terlalu padat. Mengingat film dan sinetron lebih menekankan penyampaian dalam bahasa gambar, artinya apa yang bisa dituturkan lewat gambar tidak perlu lagi diterjemahkan lewat katakata.
Dalam membuat format skenario, dialog ditulis dengan huruf kecil, posisi agak ke tengah di bawah nama tokoh. Font. Times New Roman, 12 pt.

7 Transisi
Seperti halnya dalam istilah umum, transisi dalam skenario pun berarti peralihan, peralihan dari scenes satu ke scena berikutnya. Biasanya digunakan istilah Cut To, Fade Out-Fade In, atau Dissolve To. Tujuan transisi, selain menjadi pengait antara ending scenen sebelumnya dengan scene berikutnya, juga bisa mempunyai makna lain untuk adegan-adegan tertentu.
Misalnya, dalam adegan mimpi, kita memakai Dissolve To. Transisi ini ditulis dengan huruf kapital pada posisi di pinggir kiri/ kanan. Font. Times New Roman, 12 pt.

Sumber: Kuliah OnLine