Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com
Tampilkan postingan dengan label analisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analisa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2016

Welcome La Nina

First was El Nino, now brace for La Nina
Nyshka Chandran | @nyshkac
Thu, 14 Jan '16 | 7:00 PM ET
CNBC.com
PLAY VIDEO

Wild weather swings from the phenomenon known as El Nino have rocked commodities and countries from Australia to Paraguay. Now, analysts are tipping renewed jitters spurred by La Nina, El Nino's little sister.
While El Nino is characterized by rising sea surface temperatures in the Pacific Ocean, La Nina represents periods of below-average temperatures, which produces an opposite weather impact. So while El Nino saw record heat in Australia and warm climate in North America during December, La Nina is expected to bring rains Down Under and intensified chills in North America during the same period.
"Our analysis above suggests an 89 percent likelihood of a La Nina event occurring an average of twelve months after the end of an El Nino, but may also develop as soon as three months afterwards," Societe Generale (SocGen) said in a recent note.
The latter scenario occurred back in 1997-1998 following a record El Nino, the bank added.
The fact that this year's El Nino is being called the most powerful ever could see history repeat itself. If that happens, La Nina could hit before Christmas based on U.S. government forecasts for the current El Nino cycle to fade by May-July.
Commodity impact

As a result of El Nino, natural gas has weakened while cocoa and sugar prices have spiked amid warmer-than-expected Northern Hemisphere winters, a drought in West Africa and excessive rains in Brazil.
But with La Nina, grains are vulnerable with bad weather set to diminish output and boost prices.

Warm winter riskiest for this commodity: Goldman
"Dry weather conditions in the U.S. can threaten the development of corn, soybeans and wheat crops, while dry conditions in Argentina and southern Brazil can impact corn and soybeans," SocGen said.

Emerging La Nina weather extremities presents a bullish case for agricultural products across Asia including sugar, palm oil, and rice, echoed OCBC economists in a note.
Seeing as North American winters are expected to be stronger with La Nina, SocGen recommends investing in natural gas.
Heavy rains in Australia at the same time could also impact the thermal and coking coal markets due to mine flooding, which happened during the La Nina event of 2010-11.
"This could occur again, but in the current environment, increased rainfall in Australia will also likely have an impact on the restocking of cattle and sheep herds," SocGen said.
—Follow CNBC International on Twitter and Facebook.

Jumat, 08 Januari 2016

Kenaikan devisa dari pinjaman luar negeri

Cadangan Devisa RI Naik Jadi US$ 105,9 Miliar pada Akhir Desember
Jan 08, 2016, 17:30 WIB liputan6

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa sebesar US$ 105,9 miliar pada akhir Desember 2015. Angka cadangan devisa itu meningkat signifikan dari posisi akhir November 2015 di kisaran US$ 100,2 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menuturkan kenaikan cadangan devisa itu berasal dari penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, penerimaan hasil ekspor migas, dan penerbitan global bond pemerintah.

Hal itu untuk menutupan kebutuhan devisa antara lain untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

"Dengan perkembangan itu, posisi cadangan devisa per akhir Desember 2015 dapat membiayai 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," kata Tirta dalam situs BI, Jumat (8/1/2016).

Ia menambahkan, cadangan devisa itu juga di atas standar kecukupan standar internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa itu mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Sebagai informasi, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 100,2 miliar pada akhir November 2015. Angka itu turun US$ 500 juta dari posisi akhir Oktober 2015 sebesar US$ 100,7 miliar. (Ahm/Igw)

Sabtu, 26 Desember 2015

Panen padi mundur dua bulan

Panen Raya Padi di 2016 Diprediksi Mundur 2 Bulan

Bisnis Detik / 4 jam yang lalu

Jakarta -Panen raya yang biasanya jatuh pada bulan Maret diperkirakan akan mundur hingga 2 bulan pada tahun 2016 mendatang. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Perum Bulog dengan para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat pada awal pekan ini.

"Senin (21 Desember 2015) kemarin kami (Bulog) kumpul dengan 250 mitra kerja kami di Jawa Barat.‎ Ketua KTNA provinsi, kabupaten, hadir semua. Kita diskusi tentang perkiraan-perkiraan panen di tahun 2016. Menurut mereka ada pengunduran panen 2 bulan, berarti diprediksi panen pertama bulan Maret, panen raya April-Mei. Biasanya Maret sudah panen raya," ungkap Direktur Pengadaan Perum Bulog, Wahyu, kepadadetikFinance di Jakarta, Sabtu (26/12/2015).

Wahyu menuturkan, sebagian besar Jawa Barat saat ini bahkan belum memasuki musim tanam. Jawa Barat merupakan sentra produksi beras ke-2 terbesar di Indonesia setelah Jawa Timur.‎ Dengan perhitungan jarak antara tanam dan panen padi adalah 3 bulan, maka Jawa Barat baru mulai musim panen pada Maret 2016 dan panen raya pada April-Mei 2016.

"Sebagian besar petani di Jawa Barat, menurut informasi yang saya dapat dari Ketua KTNA setempat, belum mulai tanam. Ada yang dari Subang, Karawang, Bandung, bilang panen mundur kira-kira 2 bulan," ujarnya.

Dengan mundurnya panen raya pada 2016, berarti musim paceklik pada awal tahun bakal makin panjang. Ketua Umum Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) yang juga mantan Dirut Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, memperingatkan pemerintah bahwa puncak paceklik padi yang biasanya setiap tahun terjadi pada Januari-Februari bisa menjadi Januari-Maret di awal 2016 nanti.

Penyebabnya ‎ialah el nino yang membuat musim tanam mundur. Harusnya tanam besar dilakukan pada bulan Oktober. Tetapi sangat minimnya curah hujan di Oktober lalu membuat para petani, terutama yang sawahnya tadah hujan alias mengandalkan air dari hujan, tak bisa menanam.

"Kalau normal puncak paceklik itu Januari-Februari, kalau sekarang bisa sampai bulan Maret," ujar Sutarto saat dihubungidetikFinance, beberapa waktu lalu.

Pria yang juga mantan Dirjen Tanaman Pangan Kementan ini menambahkan, panen di bulan Februari 2016 akan lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya karena mundurnya musim tanam. Hal inilah yang membuat puncak paceklik diperkirakan bertambah 1 bulan. "Ini harus diantisipasi oleh pemerintah," tutupnya.

(hns/hns)

Kunjungi website