Adalah Bank Pembangunan Asia (ADB) yang
melihat, sebuah kesalahan dalam melakukan
perubahan bisa membuat Indonesia terjebak dalam
perangkap kelas menengah (a middle income trap),
yaitu kondisi negara dengan ekonomi kelas
menengah tidak lagi bisa bersaing dengan negara
berpenghasilan rendah, yang buruk dalam hal
sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur
sehingga sulit untuk mencapai status negara maju
berpenghasilan tinggi.
Apalagi jika dikaitkan dengan “mimpi” target
Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat
ketujuh di dunia pada 2030, apakah akan menjadi
kenyataan nanti? Ini perlu kajian lebih mendalam
lagi terhadap struktur perekonomian di Indonesia.
Bahkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa
mengakui bahwa negeri ini masih butuh penguatan
infrastruktur, ketahanan pangan dan sistem
perlindungan sosial, agar pembangunan makin
produktif. Persoalannya, salah satu indikasi
pembengkakan jumlah kelas menengah yang
signifikan dari 81 juta orang (2002) menjadi hampir
150-an juta orang pada 2012 dinilai belum produktif.
“Jumlah kelas menengah di Indonesia semakin
membengkak sebab bertambah 7 juta per tahun,
namun masih konsumtif,” ujarnya di Jakarta, belum
lama ini
Bagaimanapun, jumlah kelas menengah sekarang
mencapai 131 juta orang atau 56,5% dari total
penduduk Indonesia. Kategori kelas menengah,
menurut versi Bank Dunia, adalah mereka yang
membelanjakan uangnya antara US$2 hingga US$
20 per hari. Jadi, Indonesia jangan terlena dengan
kondisi seperti ini.
Bila menyimak pengalaman dari 101 negara
berpendapatan menengah pada 1960, ternyata
hanya 13 negara yang kini berhasil menjadi negara
maju. Selebihnya terperangkap dalam jebakan kelas
menengah, alias tidak maju-maju. Apakah Indonesia
ingin mengalami nasib seperti itu?
Kondisi middle income trap adalah sebuah keadaan
kondisi negara berpendapatan menengah (middle-
income countries) yang “terjebak” di posisinya dan
tidak bisa melakukan lompatan lebih jauh untuk
meningkat menjadi negara maju.
Karena menurut ADB, ada tiga faktor yang
menyebabkan sebuah negara terperangkap dalam
jebakan kelas menengah. Yaitu negara yang gagal
dalam memberikan perlindungan sosial, gagal dalam
membangun infrastruktur, dan gagal membangun
kemandirian pangan.
Hatta mengakui ada 70 juta orang Indonesia yang
berada dalam posisi rentan menjadi miskin jika
program perlindungan sosial gagal dijalankan. Untuk
itu, program kredit usaha rakyat (KUR) dan program
nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM)
Mandiri, merupakan upaya pemerintah
mengentaskan kemiskinan ke depan
Minggu, 07 Desember 2014
Awas, Jebakan Kelas Menengah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar