Senyum Indra Gunawan terlihat mekar saat hadir di acara peluncuran BBM Money di Pasific Place, 18 September lalu. Akhirnya, terlaksana juga niat Head e-Channel Business Alliance Bank Permata ini untuk menerbitkan uang elektronik bekerjasama dengan BlackBerry. Ia berharap, BBM Money bisa mendorong transaksi tanpa memakai uang secara fisik di tanah air.Belakangan, Bank Indonesia memang mendorong penggunaane-moneyalias uang elektronik untuk mengurangi peredaran uang tunai. Harapannya, e-money bisa mengurangi biaya cetak uang yang mahal dan meningkatkan efisiensi transaksi.Alhasil, penggunaane-moneymemang meningkatpesat. Berdasarkan data BI, tahun 2003, volume transaksie-moneydi Indonesia mencapai 137,9 juta transaksi melalui 36,2 juta kartu dengan nominal uang yang beredar adalah Rp 2,9 triliun. Padahal, saat awal peluncurane-moneytahun 2007, volume transaksi baru 586.000 transaksi melalui 165.100 kartu dengan nilai nominal Rp 5,26 miliar.Tahun ini sampai Juli lalu, jumlah transaksie-moneymencapai 96,2 juta transaksi melalui 32,4 juta kartu dengan nominal Rp 1,94 triliun.Bagi yang belum tahu,e-moneygampangnya adalah uang yang digunakan dalam transaksi dengan cara elektronik. Uang ini disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilainya terserah orang tersebut. Ia tinggal mengisi atau mentransfer sejumlah uang ke e-money tersebut sebelum dipakai untuk transaksi. “E-money dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran,” ujar Indra.Ada beberapa kelebihane-moneydibanding uang fisik.Pertama, Anda bisa melakukan berbagai transaksi tanpa membawa banyak uang fisik.Kedua, Anda bisa melakukan transaksi lebih cepat karena tinggal mengurangi nilai die-moneysesuai dengan nilai transaksi, tak perlu menghitung berlembar uang. Ketiga, “Slip dari mesin EDC (electronic data capture), yang digunakan untuk proses tapping, juga bisa menjadi dokumentasi transaksi kita sehingga memudahkan monitoring ke mana saja uang dibelanjakan,” ujar Budi Raharjo, One-Shildt Financial Planning.Namun, ada juga kekurangane-money.Pertama, belum semua transaksi bisa memakai e-money karena e-money baru bisa dipakai di merchant yang bekerja sama dengan penerbit.Kedua, risiko seluruh uang hilang ketika pengguna kehilangan kartu atau piranti yang dipakai menyimpan e-money. “Selain itu, jika disimpan die-money, uang kita sebenernya tidak berbunga sehingga kalau bagi orang yang mengerti investasi, ini termasuk hal yang merugikan, apalagi, ada beberapa penyedia kartu yang mengenakan charge,” ujar Budi.Dari kacamata perencanaan keuangan, Chairman One-Shildt Financial Planning Risza Bambang mengatakan,e-moneybisa kita anggap sebagai versi digital dari sistem anggaran amplop. Jadi, begitu menerima gaji, Anda sekarang bisa langsung membaginya ke dalam amplop-amplop yang berwujud e-money. Anda bisa membagi amplop-amplop digital ini sesuai dengan keperluan Anda, misalnya amplop untuk bayar tol, amplop untuk biaya transportasi umum, amplop untuk pembayaran berbagai tagihan rumahtangga.Risza menyarankan, jangan terlalu banyak mengisi uang elektronik. Sebab,e-moneymesti Anda fungsikan untuk membatasi pengeluaran. Apalagi, bila kartu hilang, uang Anda juga ikut hilang. Saran dia, uang yang diletakkan di kartu ini tidak lebih dari Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. Bahkan,financial plannerdari First Principal Fauziah Arsiyanti tidak menyarankan menaruh uang lebih dari Rp 1 juta.Anak yang belum terbiasa mengelola anggaran keuangannya, menurut Fauziah, jangan dulu diberie-money.Orangtua harus mengajari prinsipbudgeting terlebih dulu sebelum memberi e-money ke si anak. Untuk pengguna remaja pun, orangtua sebaiknya tidak mengisi langsung senilai Rp 1 juta. “Cicillah uang yang diisi kee-moneyanak kita, dua hari sekali atau satu minggu sekali, sesuai dengan kebutuhan dari anak tersebut,” ujar dia.Sampai Juli 2014, tercatat ada 18 perusahaan yang menjadi penerbit uang elektronik. Namun,e-moneytertua justru bukan diterbitkan oleh perbankan. Telkomsel justru pertama kali mendapatkan sertifikasi dari BI pada 2007 untuk menjalankan bisnis e-money. Nama produknya, T-cash. Adapun, pemain terbesar die-moneysaat ini adalahBank Central Asia (BCA) dengan produk Flazz. Jumlahnya mencapai 5 juta kartu. Di belakangnya,e-moneydari Bank Mandiri dengan 3,5 juta kartu prabayar yang beredar, kartu Brizzi dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) di urutan ketiga dengan 1,5 juta kartu prabayar yang beredar.Nah, bagaimana sebaiknya memilih yang tepat buat kita? Berikut beberapa tipnya:Sesuai kebutuhanSeiring dengan berjalanannya waktu, fitur yang ada dalame-moneyjuga mengalami perkembangan. Awalnya,e-moneyhanya digunakan sebagai pembayaran tiket transportasi publik, pembayaran tagihan, dan tiket masuk tol dan parkir. Selanjutnya, layanan ini bisa digunakan untuk bertransaksi di beberapa merchant dan tempat hiburan.Agar bisa mengontrol pengeluaran, Eko Endarto, perencana keuangan dari Finansia Consulting, menyarankan untuk memilihe-moneysesuai dengan kebutuhan. Jadi, cek fitur-fiturnya apakah sesuai dengan kebutuhan Anda.Kemudian, setelah menentukan produke-moneyyang sesuai, disiplinlah menggunakan e-money tersebut hanya untuk transaksi yang telah Anda tetapkan. Agar tidak kebablasan, batasi pula nilai dana di dalamnya. Apalagi, bilae-moneytersebut akan Anda serahkan kepada anak Anda yang belum punya penghasilan sendiri. “Jangan sampai, anak itu lebih boros jika menggunakane-money,” kata Risza.Untuk melakukan transaksi yang lebih besar, sebaiknya tetap pergunakan kartu debet yang mempunyai saldo lebih banyak. Kartu ini lebih aman karena memakai nomor identitas pribadi (PIN).Risza tidak menyarankan untuk menggunakan layanane-moneydalam hal pembayaran tagihan. Hal ini karena untuk pembayaran tagihan biasanya biayanya besar dan lebih cocok memakai kartu debit. Pembayaran tagihan denganmenggunakan layanane-moneyakan menimbulkan risiko keamanan yang tinggi. Hal inikarena uang yang harus kita isi ulang akan banyak. “Kalau umpamanya terjadi fraud atau mungkin kehilangan kartu, kan, bahaya.”Namun, Risza masih mentolerir penggunaane-moneyuntuk pembayaran majalah atau koran secara harian. “Karena hal tersebut kecil nominalnya, jadi masih relatif aman,” ujar Risza.Pilih yang jangkauan luas, layanan baikHal yang kadang menyusahkan adalah pengisian ulange-money. Sebab, seringkali pengisian ulang ini hanya bisa dilakukan lewat ATM bank-bank tertentu ataumerchant-merchantyang telah bekerjasama dengan si penerbit.Jadi, sebaiknya Anda juga jeli mencermati di tempat mana saja Anda bisa melakukan pengisianulang atau pencairan dana die-moneyAnda. Jangan sampai, Anda dibuat kesal karena sudah mencoba mengisi di suatu ATM ataumerchant, yang Anda kira bisa, ternyata tidak bisa dilakukan.Terkait jangkauan dan kualitas layanan ini, Fauziah lebih menyarankan pemakaiane-moneyyang diterbitkan oleh perbankan. Sebab, jangkauan bank saat ini sampai ke pelosok-pelosok. Selain itu, mereka juga sangat memperhatikan keamanan dan ketangguhan sistem.Fitur beragamPengguna layanane-moneytentunya senang jika kartu e-money yang digunakannya mempunyai banyak fitur yang beragam. Semakin beragam fitur, maka konsumen dapat memilih yang sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, banyak fitur juga memungkinkan si pengguna melakukan lebihbanyak transaksi cukup dengan satu produke-money.Meski demikian, sebaiknya penggunae-moneyjuga tetap waspada. Jangan sampai, lantaran banyak fitur, lantas lupa dengan fungsi e-money yang awalnya dipakai untuk pengaturan dan pembatasan anggaran alias budgeting.Jangan sampai pula, Anda menjadi silap mata lantaran berbagai macam tawaran diskon dan potongan harga. Penyedia layanane-moneybaru biasanya menyediakan program promosi seperti ini jika Anda berbelanja di tempat atau merchant tertentu yang bekerjasama dengan penyedia layanane-moneytersebut. Tidak ada salahnya memanfaatkan program promosi seperti ini. Namun, sekali lagi Eko mengingatkan, jangan terlena dengan uang yang dikeluarkan.Risza menambahkan, fitur yang beragam ditambah dengan integrasi dengan berbagai layanan publik lainnya membuat penggunae-moneyloyal. “Penyedia layanane-moneybisa dikatakan hebat jika bisa mencakup tiga layanan sekaligus dalam satu kartu, hal tersebut adalah transportasi, komunikasi dan konsumsi,” ujar Risza.Namun, menurut Risza, layanan yang terlalu beragam, terutama fitur belanja di berbagaimerchantdan swalayan sebenarnya bisa menghilangkan fungsi awale-moneysebagai salah satu upayabudgeting. “Sebaiknya pengguna layanane-moneytidak menggunakan kartunya untuk berbelanja di swalayan atau merchant belanja yang lain karena hal tersebut lebih cocok untuk menggunakan kartu debit,” saran Risza.Cek biaya tambahanPengguna e-money kadang tidak sadar, ketika melakukan transaksi, ternyata ada biaya tambahan atau tambahan harga yang harus dikeluarkan. Nah, terkait dengan hal ini, penggunae-money sebelum menentukan akan menggunakan layanane-moneytertentu, sebaiknya memeriksa berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan ketika bertransaksi atau melakukan proses isi ulang. “Jadi, jangan sampai uang di dalam saldo e-money ini terkuras habis utuk membayar biaya administrasi dan bunga yang ada di layanan e-money,” ujar Risza.Bentuke-moneySeperti kita tahu, dalam perkembangannya,e-moneytidak saja dalam bentuk kartu. Tapi, ada juga yang menggunakan telepon seluler sebagai medianya.Nah, dalam memilih e-money, menurut Risza, sebaiknya konsumen lebih mengerti kebutuhan mereka sendiri dan mana bentuk e-money yang paling cocok dengan kebutuhannya itu. “Mungkin pilihan ini disesuaikan dengan profil dan kebiasaan dari penggunae-money,” kata dia.Jika lebih nyaman dengan menggunakan kartu maka pilihe-moneydari perbankan, tapi jika lebih sering menggunakan telepon seluler untuk berbagai pembayaran karena mungkin lebih praktis, maka Anda bisa memilih e-money yang diterbitkan operator seluler.Nah, selamat memilihe-moneyyang pas untuk Anda!Editor : Edy Can
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar