Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Jumat, 20 Februari 2015

Pemerintah tidak buka impor beras meski harga naik 30 persen

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perdagangan memastikan tidak akan membuka keran impor beras meskipun saat ini harga kebutuhan pokok masyarakat itu sudah mengalami kenaikan hingga 30 persen.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menjelaskan langkah untuk tidak membuka keran impor beras karenapemerintah masih memiliki stok beras yang mencukupi di Perum Bulog, dan juga dalam waktu dekat akan memasuki masa panen raya.

"Tidak akan ada impor (beras), pasti. Stok kita ada, panen raya juga akan dalam waktu dekat," tegas Rachmat, Jumat (20/2).

Rachmat mengungkapkan jika pemerintah membuka keran impor beras, maka diperkirakan beras tersebut akan masuk ke Indonesia kurang lebih pada Maret 2015, atau pada saat bersamaan dengan panen raya.

"Jika saya impor, pada Maret 2015 datang, barang masuk bersamaan dengan panen raya, jadi tidak bagus untuk para petani kita," ujar Rachmat.

Rachmat menjelaskan, kendati harga beras mengalami kenaikan, namun pemerintah enggan untuk dipermainkan dan membuka keran impor. Oleh karena itu, pihaknya akan mempergunakan cadangan yang dimiliki Bulog untuk operasi pasar melalui Satgas Bulog.

"Jangan sampai dengan harga naik begini kita mau dimainkan untuk impor saja, itu tidak boleh. Mentan baru berbicara dengan saya, kita akan pakai cadangan Bulog untuk operasi pasar," kata Rachmat.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Hasil Sembiring menyatakan luas panen pada Maret 2015 akan mencapai 2,4 juta hektare, atau setara dengan 12 juta ton gabah kering.

"Pada Maret, kita prediksi panen akan mencapai 2,4 juta hektar, atau setara dengan 12 juta ton gabah kering atau 7,1 juta ton beras," kata Hasil.

Hasil mengatakan, pada Januari 2015 sendiri, luas panen mencapai 621 ribu hektar, atau setara dengan 3,2 juta ton gabah kering atau sebanyak 1,9 juta ton beras. Pada Februari 2015 luas panen naik menjadi 1,3 juta hektar, atau setara dengan 6,7 juta ton gabah kering atau 3,9 juta ton beras.

"Untuk April 2015, luas panen sebesar 2,1 juta hektar, setara dengan 10,6 juta ton gabah kering atau 6,1 juta ton beras," ujar Hasil.

Pemerintah tidak membuka keran impor beras kendati harga beras terus mengalami kenaikan. Di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Selatan kenaikan bahan kebutuhan pokok masyarakat tersebut mencapai 30 persen.

Pemerintah melalui Perum Bulog pada Desember 2014 hingga Januari 2015 telah melakukan operasi pasar dan menyalurkan kurang lebih sebanyak 75.000 ton beras, tetapi beras Bulog tersebut tidak ada di pasaran.

Skema yang dilakukan Bulog pada Desember 2014 hingga Januari 2015 lalu dinilai pemerintah tidak mampu meredam kenaikan harga beras dan pada akhirnya penyaluran dilakukan oleh satgas Bulog ke 12 pasar rakyat dan 50 titik permukiman di Jadetabek.

Tidak ada komentar: