Kecemasan adalah pembunuh yang tersamar.
Kita membaca mengenai meningkatnya kasus serangan jantung, kanker dan kelainan mental setiap hari namun mungkin membuat diri kita cemas adalah penyebab terbesar dan paling lazim dari semua penyebab yang ada.
Kecemasan mirip biji yang kerap berkecambah dan tumbuh tanpa sadar.
Kita bisa menyebutnya dengan nama berbeda. (Stres, rasa tertekan, frustrasi).
Kita kerap meremehkannya.
Kita kadang bahkan menyangkalnya.
Namun, kenyataannya dengan lebih banyak opsi dan ekspektasi yang lebih besar dalam semua hal yang kita lakukan, bagaimana kita berhadapan dengan kecemasan sering menentukan kualitas kehidupan kita.
Berikut adalah beberapa cara bagaimana para pemimpin besar mengatasi kecemasan mereka.
Mereka menerima skenario terburuk. Kemudian mulai memperbaikinya.
Cemas terkait dengan sesuatu yang tak jelas.
Lebih sering kita cenderung mencemaskan hal-hal yang mungkin terjadi.
Apakah itu tentang kehilangan bisnis, tidak lulus, atau sesederhana mencemaskan rambut yang kerap rontok, ketidakpastian mengenai masa depan membuat kita tidak bisa berpikir jernih dan membuat kita kewalahan dalam semua pekerjaan kita.
Meskipun alasan yang dikemukakan orang lain muncul, seringkali kita menakutkan skenario terburuk.
Para pemimpin besar memahami bahwa tak seorang pun bisa memprediksi masa datang. Alih-alih berpikir sampai kelelahan mengenai semua kemungkinan yang tidak terhitung banyaknya, mereka lebih memilih untuk fokus.
Mereka bertanya pada diri mereka sendiri "hal terburuk apa yang bisa terjadi?". Hanya dengan menghadapi masalah ini akan membawa kejelasan berpikir dan ketenangan dalam pikiran. Jika yang terburuk memang terjadi, mereka bisa menerimanya. Kemudian mereka mulai mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi — yang secara otomatis berarti mereka memiliki segalanya untuk dicapai.
Para pemimpin besar memperbaiki berdasarkan skenario terburuk.
Mereka tetap menyibukkan diri
Pikiran kita sungguh menakjubkan.
Pikiran ini adalah bibit dari semua keinginan, tindakan dan keyakinan kita. Pada dasarnya, apa yang kita sering pikirkan, itulah yang akan menjadi kepribadian kita.
Pikiran positif sama dengan tindakan positif. Demikian juga yang negatif.
Bahkan kecemasan kesulitan mengisi pikiran yang sedang sibuk. Para pemimpin besar memahami bahwa pikiran negatif bisa diatasi dengan tindakan positif. Begitu mereka menemukan kecemasan dalam pikiran, mereka bertindak dan melakukan sesuatu yang berguna mengatasinya. Itu mencegah kecemasan menjadi membesar.
Hal terburuk yang dilakukan orang di tengah kecemasan ialah terlalu banyak berpikir atau berdiskusi. Kita semua tahu orang yang sudah banyak meneliti mengenai masalah yang membuatnya cemas dan siapa yang hanya ingin mendiskusikan masalah saja.
Hal terbaik yang bisa dilakukan ialah menyibukkan diri.
Gantikan kecemasan dengan hal lain yang lebih produktif.
Mereka mendiskusikan masalah dengan para pakar dan bertindak!
Sebagai makhluk sosial, kita diprogram untuk mencari bantuan dari orang lain.
Sehingga masuk akal bila sering kita merasa terbantu dan lega begitu mendapat bantuan dan dukungan dari orang lain yang juga mengalami kondisi serupa.
Masalahnya semua orang memiliki pendapat berbeda. Yang bisa berarti membuat kebingungan yang lebih banyak dan memicu kecemasan lebih tinggi.
Para pemimpin paham bahwa mendiskusikan masalah yang mencemaskan lebih baik dilakukan dengan seorang pakar berpengalaman. Tak cuma membuat Anda lebih yakin tetapi juga terfokus pada solusi nyata.
Pengetahuan yang akurat ialah titik awal untuk membuat keputusan lebih baik. Dan keputusan yang tegas menggiring menuju tindakan.
Para pemimpin hebat berbicara dengan pakar lalu mengambil tindakan dengan percaya diri.
Simpulan
Bagaimana kita mengatasi kecemasan merupakan komponen utama dalam menjalani hidup yang memuaskan.
Kesehatan, karir, hubungan dan bahkan keuangan akan meningkat dengan menangani kecemasan dengan baik. (ap)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar