Share
Home Industri Daya saing sayur dan buah lokal lemah
MEA
Daya saing sayur dan buah lokal lemah
Oleh : Noverius Laoli
Rabu, 09 Desember 2015
09:14 WIB
JAKARTA. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di ambang pintu. Indonesia patut waspada atas beragam produk hortikultura nasional yang belum memiliki daya saing untuk bertarung dengan produk sejenis dari negara ASEAN lain.
Lemahnya produk sayur dan buah nasional sejatinya telah terdeteksi sejak lama. Namun hingga kini, perbaikan belum dilakukan, sehingga daya saing produk sayur dan buah Indonesia belum juga terangkat.
Sejumlah faktor yang masih menghadang daya saing produk hortikultura lokal, antara lain, Pertama, proses pengemasan yang kurang menarik sehingga tak diminati pasar.
Kedua, biaya transportasi pengiriman yang mahal membuat harga jual sayur dan buah juga melambung. Ketiga, tidak konsistennya pasokan dari petani. Padahal, secara kualitas, buah dan sayur asal Indonesia diakui banyak negara sebagai produk tanaman tropis terbaik di dunia.
Tengoklah, pada era tahun 1980-an, Indonesia pernah menjadi eksportir buah dan sayur terbesar di kawasan Asean. Hal itu terlihat dari data ekspor kala itu dimana Singapura mengimpor 30% kebutuhan buah dan sayurnya dari Indonesia.
"Tapi sekarang tinggal 4% saja yang berasal dari Indonesia," ujar Ketua Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia (AESBI) Hasan Johnny Widjaja kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Saat ini, saingan terbesar Indonesia dalam mengekspor buah adalah Malaysia. Bahkan saat ini, kebutuhan 48% buah di Singapura dipasok dari Negeri Jiran ini, disusul produk dari China yang hanya menyumbang 28%.
Hal yang paling berpengaruh besar dalam melemahkan daya saing produk sayuran dan buah adalah biaya transportasi akibat infrastruktur yang belum mendukung. Di sisi lain, pengetahuan petani sayur dan buah juga untuk mengelola pasca panen sangat minim.
Akibatnya, kualitas produk buah dan sayur menjadi rendah sampai di pasaran. Dengan bakal dimulainya era pasar bebas regional di kawasan ASEAN, dapat dipastikan buah impor asal Thailand, Vietnam, dan Malaysia bakal membanjiri pasar domestik.
Untuk membendung produk ekspor, Hasan mengusulkan agar dibuat kawasan khusus untuk budidaya produk buah dan sayuran unggulan di sejumlah wilayah di Tanah Air. Dengan demikian, pemerintah bisa melakukan pengawasan langsung untuk meningkatkan kualitas produk siap ekspor.
Direktur Royal Sun Fruit Sunandi Kertawidjaya mengatakan kawasan khusus pertanian tanaman buah ini harus terjangkau transportasi sehingga memudahkan transportasi ke pusat kota. "Banyak produk ditolak negara tujuan ekspor hanya karena lecet. Hal ini akibat transportasi ke lokasi pertanian yang sulit," ujar Sunandi.
Gardjita Budi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) mengatakan pemerintah terus memperbaiki kualitas sayur dan buah orientasi ekspor, seperti pisang, nanas, manggis, dan salak. Perbaikan itu mulai dari tahap budidaya dengan memberlakukan good agricultural practice, sehingga layak masuk pasar ekspor. Contohnya adalah produk manggis Indonesia yang telah masuk Australia dan Selandia Baru sejak beberapa tahun terakhir .
Hambatan daya saing holtikultura Indonesia
1. Kemasan
2. Biaya transportasi
3. Pasokan tak menentu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar