Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Rabu, 12 Desember 2018

Alasan tidak perlu iri pada orang lain

pernah merasa iri dengan kehidupan orang lain yang dilihatnya terasa “wah”. “Kok dia enak banget ya, udah cantik dari lahir, pinter, kaya, keluarga harmonis, dll.”


Ya kalau lihat ke atas terus ngga bakal ada habisnya, Gooders. Di atas langit selalu ada langit.


Berikut ini ada lima alasan mengapa kita nggak perlu iri sama kehidupan orang lain. Cekidot!


Kehidupan manusia memang diciptakan beragam


Dengan memahami bahwa “kehidupan manusia memang diciptakan beragam” berarti sudah sewajarnya jika setiap manusia terlahir dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang terlahir di keluarga berada, ada juga yang terlahir di keluarga yang pas-pasan. Coba deh bayangin kalau semua manusia di dunia ini sama. Justru jadi nggak indah kan? Dunia ini indah justru karena adanya perbedaan. Jadi, kalau kamu merasa “Kok hidupku gini ya, beda sama kehidupan orang-orang?” Nggak masalah! Justru di situ keindahannya.


Setiap orang sudah punya “jatah”nya masing-masing


Setiap dari kita sudah “dijatah” dengan skala masing-masing. Nggak perlu iri kalau lihat ada orang yang udah “enak” dari lahir, kaya tujuh turunan. Hey, sadari bahwa orang yang dikasih “jatah banyak” dari lahir, otomatis mereka juga punya beban tanggung jawab yang banyak dari lahir. Pada prinsipnya kan, apapun yang ada pada diri kita di dalam hidup kita adalah milik Tuhan yang untuk sementara waktu “dititipkan” kepada kita. So, kalau kita lihat ada orang yang hidupnya kok enak banget, harta melimpah, sadari bahwa suatu saat mereka harus mempertanggungjawabkan “titipan” Tuhan itu. Ibaratnya begini deh, dititipin uang seratus ribu dibandingkan dengan dititipin uang seratus juta, menurut kamu, lebih berat yang mana? Nah! That’s exactly the point. Kalau ada orang yang udah “enak” dari lahir, toh itu semua pada hakikatnya bukan milik mereka kok. Suatu saat, apapun yang ada pada diri kita di dalam hidup kita akan dimintai pertanggungjawaban. So, nggak perlu iri, Gooders.


Mengeluh nggak akan mengubah keadaan jadi lebih baik


Mau mengeluh sampe capek pun nggak akan mengubah keadaan berubah jadi lebih baik, Gooders. Syukuri aja apa yang sudah ada pada dirimu. Ingat, segala sesuatu yang sudah Tuhan berikan kepada kita itu sebenarnya udah banyak banget. Kita nggak akan bisa menghitung betapa banyaknya nikmat Tuhan yang sudah diberikan kepada kita. Mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, kepala, otak, akal, dan lain-lain, apakah itu semua bisa dibeli? Absolutely no. Itu berarti sebenarnya Tuhan udah ngasih banyak banget buat kita. Logikanya, kalau kita dikasih sesuatu seharusnya kita ngapain? Berterimakasih kan? Itulah mengapa, bersyukur adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada mengeluh “kenapa hidup orang lain kayaknya lebih enak”.


Ingat pepatah Jawa “Urip Kuwi Wang Sinawang”


Pepatah Jawa tersebut memiliki makna bahwa hidup orang lain yang “kelihatannya” enak itu hanya karena keterbatasan kemampuan penglihatan kita, Gooders. Coba kalau kita bisa melihat sesuatu yang tak pernah diperlihatkan orang lain, niscaya kita akan takjub terhadap hal-hal yang selama ini kita pikir tidak ada. Contohnya: kita berpikir bahwa orang yang selalu tertawa/tersenyum itu pasti nggak punya masalah atau hidupnya nggak pernah susah. Well, padahal semua orang itu punya masalah. Kalau mereka bisa terlihat bahagia, berarti mereka kuat. Mampu menyembunyikan kepedihan hatinya sendiri. So, Gooders, berhentilah berpikir bahwa “rumput tetangga selalu lebih hijau”. Lebih baik rawat rumput kita sendiri dengan lebih baik.

Tugas kita di dunia ini adalah “bertanggung jawab”, bukan “membanding-bandingkan”

Kalau kita terus menerus membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain, itu nggak akan ada habisnya, Gooders. Karena di atas langit selalu ada langit. Kalau membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan tujuan untuk meningkatkan motivasi sih ya nggak papa. Itu bagus. Tapi kalau membanding-bandingkan diri malah justru membuat kita merasa rendah diri dan tidak berdaya, alangkah lebih baiknya tidak usah membanding-bandingkan. Karena pada hakikatnya tugas kita di dunia ini adalah untuk bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang sudah ada pada diri kita. Waktu, tenaga, akal, pikiran, organ tubuh, harta, bakat, dan lain sebagainya, pada akhirnya nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah kita menggunakan semua itu untuk hal-hal positif? Apakah kita menggunakan semua itu untuk kebermanfaatan bagi sesama? Itulah yang pada akhirnya nanti akan ditanyakan kepada kita dan harus kita pertanggungjawabkan.

So, Gooders, alangkah lebih baiknya kita lihat hal baik apa saja yang sudah ada pada diri kita, kemudian kita kembangkan dan gunakan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.



Tidak ada komentar: