Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Selasa, 08 Januari 2019

Gejala anda jatuh miskin tahun ini

Dikutip dari situs Comparehero,  15 kebiasaan buruk tentang keuangan ini patut kamu hindari agar keuanganmu meningkat di tahun 2019.

Hidup di luar kemampuan
Kebiasaan buruk yang paling sering dilakukan orang dalam pengelolaan keuangan mereka dapat dilihat dari satu hal sederhana ini. Yakni: apabila hidup diluar kemampuan sendiri. Peribahasa yang berbunyi “besar pasak daripada tiang” yang seharusnya dihindari ternyata malah menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena itu, mulai tahun ini, lakukanlah perubahan. Periksalah kembali daftar pengeluaran rutin rumah tanggamu, belanja bahan makanan, biaya untuk bersenang-senang di luar rumah, dan lain sebagainya. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Buatlah batasan yang tegas di sana. Tetapkan tujuan yang jelas dengan uang yang kamu miliki.

Terus-terusan membandingkan diri dengan orang lain
Selalu menganggap “rumput tetangga lebih hijau” akan membuat keuangan, dan juga waktumu, terkuras habis. Selain itu, tekanan untuk selalu menjaga penampilan yang biasanya didorong oleh teman-temanmu,  dapat menjadikanmu bertindak konsumtif dalam berbelanja. Sebaliknya,  fokuslah pada apa yang paling cocok untuk dirimu. Dan ingat bahwa orang lain yang kamu jadikan perbandingan bisa saja sedang mengulangi kesalahan keuangan yang sama dengan yang akan kamu hindari.

Mengabaikan Perencanaan Anggaran
“Bujet? Bujet apa?” Seringkali orang heran ketika ditanya tentang anggaran atau bujet. Hal itu dikarenakan mereka biasa hidup dari gaji ke gaji tanpa membuat perencanaan anggaran dengan baik, dan tidak menyisakan apapun untuk masa depan. Bila ingin menghindari  kesalahan keuangan ini, cobalah buat perencanaan anggaran di tahun 2019. Lakukan inventarisasi tagihan, hutang, dan pengeluaran lainnya. Setelah itu, pilah-pilah pendapatan kamu untuk memenuhi kewajiban keuangan tersebut. Buat skala prioritas dalam pembayaran yang didasarkan pada  urgensinya.

Pembelian “panas mata”
Seringkali barang-barang yang dipajang di meja kasir membuat “panas mata” orang untuk membelinya. Harganya mungkin terlihat murah dan tidak terlalu memberatkan keuangan. Misalnya permen, gantungan kunci, mainan, dan sejenisnya. Atau saat berjalan-jalan di mal, ada penjual yang menawarkan barang-barang promosi dengan harga murah. Namun bila kamu tak dapat menghindari keinginan impulsif untuk membeli barang-barang yang diluar rencanamu itu,  maka kebiasaan buruk membeli barang karena alasan “panas mata” tersebut bisa berdampak besar pada keuangan. Jadi, hindarilah keinginan-keinginan belanja yang impulsif.

Berutang terlalu banyak
Hindarilah utang dalam jumlah besar, sebanyak yang kamu bisa. Dan tahan keinginan untuk meminjam uang dalam jumlah terkecil sekalipun, meskipun kamu yakin sanggup mengembalikannya. Hidup yang sepenuhnya bebas dari bantuan orang lain akan menempatkan kamu dalam pola pikir yang lebih cerdas tentang keuangan. Jika terpaksa harus meminjam uang, carilah bank yang mengeluarkan produk pinjaman pribadi terbaik. Jangan pernah pergi ke rentenir !

Meminjamkan terlalu banyak uang
Berkaitan dengan hutang piutang, hampir setiap orang memiliki satu teman atau saudara yang selalu meminjam uang tapi tidak pernah mengembalikan. Kadang-kadang perlu sedikit tegas untuk  mengatakan “tidak” kepada mereka. Hal ini sangat penting, terutama ketika keuangan kamu  sendiri sedang dalam posisi genting.

Bermasalah dengan tagihan kartu kredit
Macetnya pembayaran tagihan bulanan kartu kredit akan berpengaruh besar pada keuanganmu.  Selain bunga kreditnya membengkak, skor kreditmu di mata bank pun akan nampak buruk. Hal itu akan menutup kesempatan mendapatkan kartu kredit yang lebih bagus di masa mendatang.  Oleh karenanya, bayarlah tagihan kartu kredit tepat pada waktunya. Jangan hanya membayar minimum payment- nya saja. Gunakan situs Halomoney untuk membandingkan kartu kredit yang terbaik untuk kebutuhanmu.

Bayar dulu, bertanya kemudian
Meskipun uang tunai yang kamu miliki cukup untuk menyelesaikan berbagai biaya bank, asuransi mobil, KPR,  dan lain sebagainya, namun biasakanlah kamu memahami apa yang kamu bayar tersebut. Bacalah perjanjian kontrak sebelum kamu menandatanganinya, dan jangan ragu untuk bertanya. Berkonsultansilah dengan orang-orang yang mengerti secara finansial ketika kamu belum merasa yakin memahami perjanjian-perjanjian kontrak tersebut. Hindari kebiasaan bayar dulu, bertanya kemudian.

Dana bulanan yang selalu dihabiskan
Mengurangi kemewahan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keuangan dalam jangka panjang. Buatlah daftar pengeluaran rutin bulanan dan catat apa saja yang sering digunakan. Kebutuhan rutin seperti air, listrik, pulsa, kuota internet, TV kabel bukan masalah baru. Namun kamu mungkin memiliki pemikiran alternatif tentang cara pembayarannya. Misalkan dengan menggunakan dompet elektronik seperti Gopay, Ovo, T-Cash, dan lain sebagainya yang memberikan cashback. Dengan begitu, masih tersisa uang dari dana bulanan tersebut. Atau melakukan penghematan listrik untuk AC,  menyetop layanan TV kabel premium, dan tidak selalu menghabiskan dana untuk membeli gadget  keluaran baru.

Tidak menyiapkan dana darurat
Dana darurat sangat bermanfaat ketika terjadi kebutuhan mendadak. Banyak orang cenderung meremehkan pentingnya menyimpan dana darurat ini. Padahal jika kamu tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau mengeluarkan biaya pengobatan medis yang besar, maka kamu harus memiliki cukup banyak uang yang disisihkan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga selama setidaknya tiga bulan. Biasakanlah  untuk menyisihkan minimal 10% dari penghasilanmu  setiap bulan, atau lebih besar lagi dari itu.  

Mengabaikan perhitungan pajak
Pajak penghasilan (PPh) maupun pajak pertambahan nilai  (PPN) yang dikenakan kepada para wajib pajak mesti benar-benar dipahami. Tanpa pemahaman yang benar, maka kamu akan pusing tujuh keliling dalam perencanaan anggaran karena ternyata cukup besar penghasilanmu yang terpotong oleh pajak. Jika pekerjaan kamu secara otomatis memotong pajak dari gaji, hubungi bagian payroll perusahaan untuk menanyakan dengan tepat berapa yang dibayar untuk pemotongan tersebut. Bila perlu, ajukan keringanan pajak di awal tahun baru.

Tidak pernah memeriksa riwayat kredit
Di beberapa negara, terdapat lembaga khusus yang memberikan ringkasan terperinci tentang riwayat kredit dari setiap nasabah bank. Di Indonesia, pengecekan ini biasanya disebut BI Checking atau Informasi Debitur Individual (IDI). Lakukanlah pengecekan riwayat kredit secara teratur setiap tahun, sehingga kamu dapat menganalisa sebagus apa riwayat kreditmu di mata bank.

Kamu bisa melakukannya melaui situs Bank Indonesia (BI). Masuk ke halaman Permintaan IDI Historis di situs BI, lalu isi formulir dengan lengkap. Kirim formulir yang sudah diisi lengkap, kemudian tunggu balasan yang akan dikirim ke email kamu. Biasanya pihak BI membutuhkan waktu kerja selama empat hari atau seminggu untuk mengirim email balasan.

Bila sudah ada balasan dari BI, maka kamu dapat mengetahui apakah namamu ada dalam IDI Historis atau tidak. Jika tidak ada, artinya kamu tidak pernah melakukan kredit atau melakukan kredit di lembaga keuangan yang tidak terdaftar dalam Biro Informasi Kredit. Bila namamu ada di daftar IDI Historis, datanglah ke kantor BI dengan  membawa balasan email dari BI yang diprint dan kartu identitas asli (KTP/KITAS). Mintalah informasi tentang status catatan kredit Anda.

Tidak menyiapkan asuransi
Jangan abaikan asuransi. Selain menyiapkan dana darurat, polis asuransi yang baik -entah itu asuransi kesehatan, asuransi mobil, atau barang-barang pribadi lainnya- juga dapat berfungsi sebagai jaring pengaman yang efektif untuk keuangan. Setelah menghitung penghasilan bulanan, carilah polis asuransi dengan harga terjangkau, manfaat komprehensif, dan layanan yang andal.

Pastikan kamu memahami sepenuhnya apa yang dicakup oleh paket asuransi dan apa yang tidak. Setelah berbicara dengan agen asuransi, konsultasikan juga dengan teman dan keluarga. Pengalaman mereka dengan asuransi dapat membantu kamu memutuskan asuransi mana yang kamu butuhkan.

Tidak memikirkan dana pensiun
Anak muda berusia dua puluh tahun mungkin berpikir bahwa terlalu dini untuk khawatir dengan tabungan pensiun. Masalahnya, menunda rencana pensiun terlalu lama dapat menyebabkan kamu  masih belum menabung apa pun selama beberapa dekade. Terapkan pola pikir yang sama untuk pensiun seperti halnya kamu menabung untuk dana darurat, dengan perbedaan utama adalah bahwa pensiun lebih merupakan investasi aktif di masa depan.

Selalu punya banyak alasan
Kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan harus segera diperbaiki. Jangan menunda-nunda perbaikan tersebut dengan mempertahankan berbagai alasan. Semakin banyak alasan yang kamu pertahankan akan semakin menyulitkan kamu untuk keluar dari kebiasaan buruk dalam pengelolaan keuangan.

Tak mengapa kamu telah melakukan kesalahan dalam pengelolaan keuangan, dan mungkin masih akan melakukannya lagi. Belajarlah dari setiap kesalahan. Dan yang terpenting, kamu berniat untuk mengubah kebiasaan buruk tentang keuangan.

Siap mengambil langkah perubahan untuk memperbaiki keuanganmu? Gunakan situs perbandingan Halomoney untuk menemukan pinjaman pribadi terbaik yang sesuai dengan kebutuhan kamu, kartu kredit terbaik untuk cashback, hadiah, mil udara atau penawaran terbaik.  Baca lebih banyak artikel bermanfaat di blog Halomoney agar kamu melek finansial.

Tidak ada komentar: