Hedging Sebagai Pengganti Stop Loss
27 JUL 2011 DIBACA:5057 OLEH:GREENPIPS
KATEGORI:HEDGING SCALPING MARTINGALE
Lindung nilai atau dalam bahasa Inggris disebut
hedge dalam dunia keuangan dapat diartikan
sebagai suatu investasi yang dilakukan khususnya
untuk mengurangi atau meniadakan risiko pada
suatu investasi lain. Lindung nilai adalah suatu
strategi yang diciptakan untuk mengurangi
timbulnya risiko bisnis yang tidak terduga, di
samping tetap dimungkinkannya memperoleh
keuntungan dari invetasi tersebut.
Salah satu definisi tertua dari lindung nilai terhadap
risiko adalah membeli perlindungan asuransi yang
melindungi properti tersebut terhadap berbagai
risiko seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, huru-
hara dan lain-lain.
Contoh lindung nilai
Seorang investor percaya bahwa harga saham dari
perusahaan XXX akan naik bulan depan sehubungan
dengan ditemukannya suatu metode baru yang
efisien dalam produksi ZZZ. Ia ingin membeli saham
XXX agar dapat memperoleh keuntungan dari
kenaikan harga saham yang diperkirakannya,
namun XXX berada pada kelompok industri yang
berisiko tinggi. Apabila si investor secara
sederhana langsung melakukan pembelian saham
termaksud, maka transaksi tersebut merupakan
suatu tindakan spekulatif. Namun, si investor
meminati saham perusahan XXX tersebut sehingga
mengabaikan kelompok industri di mana
perusahaan tersebut berada, namun ia ingin
melakukan lindung nilai terhadap risiko terhadap
industri di mana perusahaan tersebut berada
dengan melakukan posisi jual (short) dengan nilai
yang sama dari saham pesaing langsung dari XXX
yaitu saham AAA. Apabila si investor melakukan
posisi jual (short) suatu aset yang secara
matematis memiliki suatu nilai yang berhubungan
dengan nilai saham XXX ( misalnya opsi beli (call
option) saham XXX) maka transaksi tersebut dapat
berisiko dan transaksi ini disebut arbitrasi
(arbitrage ) [1][2] . Tetapi, apabila risiko tetap ada
dalam transaksi tersebut maka ini disebut lindung
nilai.
Portofolio si investor pada hari pertama adalah
sebagai beikut:
Posisi beli (long) 1.000 saham dari XXX dengan
harga Rp 100
Posisi jual (short) 500 saham dari AAA dengan
harga Rp 200
(Catatan : si pedagang melakukan penjualan (short)
dengan nilai transaksi yang sama)
Pada hari kedua transaksi, beredar suatu berita baik
terhadap prospek industri ZZZ, dan semua harga
saham industri ZZZ naik namun karena XXX adalah
merupakan perusahan terbesar dalam industri ZZZ
maka sahamnya mengalami kenaikan lebih tinggi
yaitu sebesar 10%, dibandingkan saham AAA yang
hanya mengalami kenaikan 5%, sehingga portofolio
si investor menjadi sebagai berikut:
Posisi beli (long) 1.000 saham dari XXX dengan
harga Rp 110 - keuntungan Rp 10.000
Posisi jual (short) 500 saham dari AAA dengan
harga Rp 210 - rugi Rp 5.000
(pada posisi jual (short), si investor mengalami
kerugian sewaktu harga saham naik)
Ada dua tipe hedging sehubungan dengan fluktuasi
nilai tukar mata uang:
1. Buyer hedging
Buyer hedging digunakan untuk mengurangi risiko
berkaitan dengan kemungkinan nilai tukar mata
uang yang naik.
2. Seller hedging
Seller hedging digunakan untuk membatasi risiko
berkaitan dengan kemungkinan nilai tukar mata
uang yang turun.
Sedangkan tipe strategi-strategi hedging adalah:
1. Classical hedging
Tipe strategi ini digunakan ketika trader berada
dalam posisi yang berlawanan dengan pasar dan
kebanyakan digunakan oleh pedagang produk
pertanian, terutama di Chicago (Amerika Serikat).
2.Full and partial hedging
Full hegding mengimplikasikan perlindungan
terhadap risiko-risiko keseluruhan transaksi yang
merugikan. Tipe hedging ini secara keseluruhan
menghapus kemungkinan kerugian yang akan
diderita trader karena fluktuasi nilai tukar mata
uang.
Sementara partial hedging hanya melindungi
sebagian dari transaksi trading.
3. Anticipatory hedging
Hedging tipe ini bekerja dengan memperkirakan
pembelian dan penjualan dengan baik sebelum
transaksi trading dibuat. Dia bekerja dengan baik
terutama di pasar riil. Namun strategi ini dapat pula
diaplikasikan dalam trading pada pasar saham,
bahkan bisa dikatakan tipe ini sering digunakan
pada jenis pasar tersebut.
4. Selective hedging
Selective hedging ditandai oleh fakta bahwa
transaksi di pasar pada masa akan datang akan
memiliki variasi pada volume dan eksekusi order.
5. Cross hedging
Hedging tipe ini memiliki karakterisasi yang
berhubungan dengan kenyataan bahwa aksi di
pasar pada masa akan datang melibatkan kontrak,
bukan pada aset di pasar riil, tetapi pada instrumen
keuangan yang lain. Contohnya, pada pasar riil
terdapat aksi-aksi yang berkaitan pembagian
saham, tetapi di pasar pada masa yang akan
datang akan lebih banyak melibatkan indeks saham.
Meski strategi ini mampu membuat trader
mendapatkan profit, namun sejatinya hedging
bertujuan untuk mengurangi potensi rugi atas
transaksi seorang trader.
Di artikel sebelumnya, kita sudah membahas
mengenai pentingnya Stop Loss dan pertimbangan-
pertimbangan untuk menentukan berapa point
sebaiknya Stop Loss ditentukan. Namun demikian,
banyak juga trader yang masih juga kurang nyaman
dengan Stop Loss yang bersifat “kaku”.
Kebanyakan masih menganggap Stop Loss
konvensional seperti ini masih terlalu kaku untuk
mengantisipasi gejolak yang terjadi di market. Nah,
bagi temen-temen trader yang masih menganggap
Stop Loss konvensional ini terlalu kaku, saya
sarankan untuk mencoba alternatif lain untuk
membatasi kerugian, yaitu menggunakan hedging.
Hedging di sini maksudnya kita membuka posisi
Buy dan Sell secara bersamaan atau tanpa meng-
close salah satu posisi. Menggunakan hedging
sebagai Stop Loss bisa dilakukan dengan dua cara.
1. Instant Execution
Maksudnya kita membuka posisi baru yang
berlawanan dengan posisi kita yang sedang
terfloating minus di mata uang yang sama dan
tanpa meng-close dahulu posisi yang minus tadi.
Cara ini digunakan untuk mengunci posisi yang
sedang floating minus.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi
1.3000 dan kemudian ternyata kita menderita loss
hingga 50 point (turun ke 1.2950) kemudian di posisi
1.2950 tersebut kita kunci (hedging) dengan cara
open order Sell baru di 1.2950 pada EUR/USD lagi.
Sehingga dengan cara ini maka loss kita akan tetap
floating -50 point terus, sampai nanti salah satu
atau kedua posisi hedging tersebut kita close. Jadi
meskipun harganya turun terus ke arah 1.2500 pun
posisi loss kita tetap -50 point.
2. Pending order
Maksudnya, kita memasang pending order pada
harga tertentu sebagai pelindung dari sebuah posisi
yang kita ambil, sehingga kalaupun harga bergerak
diluar prediksi kita pada saat kita tidak sedang
memantau chart, pending order akan otomatis aktif
untuk melindungi kerugian atas posisi yang telah
kita ambil tadi.
Contoh: Kita open order Buy EUR/USD di posisi
1.3000 kemudian kita memasang pending order
(Sell Stop) di posisi 1.2950 pada EUR/USD juga.
Dengan cara ini apabila harga ternyata bergerak
turun, maka pending order akan otomatis aktif dan
membatasi kerugian atas posisi pertama tadi.
Masalahnya, bagaimana cara kita menentukan di
posisi berapa kita memasang pending order? Kalau
saran saya sih, karena hedging ini kita maksudkan
sebagai pengganti Stop Loss, maka pertimbangan
untuk menentukan di posisi berapa kita memasang
pending order ya kurang lebihnya sama dengan
pertimbangan kita dalam menentukan Stop Loss
konvensional. Silahkan simak di artikel terdahulu
tentang Stop Loss.
Cara hedging sebagai pengganti Stop Loss ini
memang mempunyai kelemahan dari sisi psikologis,
terutama untuk trader yang belum begitu
berpengalaman. Biasanya kita akan ragu-ragu
untuk menutup salah satu posisi yang positif,
karena khawatir begitu posisi hedging kita close,
ternyata trend terus berlanjut sehingga posisi yang
masih terbuka semakin bertambah minusnya tanpa
ada pelindung lagi. Sedangkan apabila kita meng-
hold posisi yang positif, khawatir kalau-kalau trend
tiba-tiba berbalik sehingga malahan kita jadi punya
koleksi floating negatif deh.
Ada saran dari salah seorang temen trader yang
biasa menggunakan cara hedging sebagai pengganti
Stop Loss mengenai kapan kita menutup posisi
hedging tersebut: sebaiknya posisi hedging tidak
usah dipasang TP. Konsekuensinya, kita harus
telaten scalping untuk posisi tersebut. Maksudnya,
kita pantau terus pergerakan harga, begitu kita rasa
trend mulai berbalik arah, segera close posisi yang
positif.
Kalaupun ternyata trend masih berlanjut, buka
posisi lagi, demikian seterusnya. Memang kita akan
rugi spread, tapi masih mendinglah kita bisa
mengambil manfaat dari pergerakan harga, daripada
cuma harap-harap cemas melihat loss dari posisi
yang “terlanjur” kita ambil. Cara hedging sebagai
pengganti Stop Loss ini memang tidak disarankan
untuk trader pemula, namun demikian bisa menjadi
alternatif bagi trader yang tidak menginginkan Stop
Loss yang sifatnya kaku.
Alternatif manapun yang akan kita pilih, sebaiknya
disesuaikan dengan “situasi dan kondisi” kita.
Artinya, kita harus merasa nyaman dengan apapun
keputusan yang kita ambil pada saat trading. Saran
utama saya sih, enjoy your trade. Nikmati setiap
proses dalam ber-trading. Jangan sampai trading
hanya menghasilkan “penyakit”. Sudah
menghabiskan waktu, tenaga, biaya, masih plus
jantungan pula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar