Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Senin, 22 September 2014

Listrik Pulau Sabira terbatas, tidak kuat nyalakan komputer


Reporter : Dharmawan
Sutanto
Merdeka.com - Kehidupan di Pulau Sabira memang
jauh dari perkotaan, itu sebabnya tidak
mengherankan bila susahnya sinyal dan tidak
adanya aliran listrik PLN di Pulau berjuluk Penjaga
Utara tersebut.
Mengenai minimnya listrik, penduduk di Pulau
Sabira hanya mengandalkan Pembangkit Listrik
Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS) yang diperuntukkan silih
berganti saat matahari terbit dan terbenam.
Salah seorang warga Pulau Sabira, Acok Ramli (47)
mengatakan, penduduk Pulau Sabira sejak tahu
1990-an memang sudah bisa menikmati listrik
dengan bantuan dari berbagai pihak. Sebelumnya
Pulau Sabira bagaikan hutan tidak mempunyai
penerangan dan minimnya jumlah penduduk.
"Alhamdulillah sudah ada listrik, kalau pagi dan
siang hari listrik memakai PLTS, sedangkan kalau
malam hari pakai PLTD. Tapi kalau musim hujan
kacau listrik di sini bahkan sering mati," ujar Acok
kepada wartawan di lokasi, Jumat (19/9).
Selain itu, Ucok mengungkapkan, dari segi
pembayaran penduduk Pulau Sabira
menyetorkannya kepada ketua RW. Ada membayar
per hari ada pula yang membayar per bulan.
"Penduduk di sini bayar sehari Rp 1000 sampai Rp
1500 per hari, ada pula yang bayar Perbulan Rp 20
ribu sampai Rp 30 ribu. Nanti yang kumpulin bu RW
dan langsung menyetor kepada petugas yang
memberikan PLTS dan PLTD," tandasnya.
Minimnya listrik di Pulau Sabira ternyata juga
berimbas kepada terganggunya fasilitas sekolah SD
dan SMP Sekolah Satu Atap 02 Pulau Sabira.
Kepala Suku Dinas (Kasudin) Pendidikan Kepulauan
Seribu, Yanto Siregar mengatakan, tak adanya
fasilitas laboratorium komputer tidak terlepas dari
minimnya pasokan listrik di Pulau tersebut.
"PLTD dan PLTS tidak mampu menopang beban
listrik untuk penggunaan komputer, kalau
dipaksakan listrik di sana akan turun. Lain hal kalau
pasokan listrik di sana sudah menggunakan PLN
(Perusahaan Listrik Negara)," tandasnya.
"Jadi, saya tekankan tidak ada pembeda sarana
dan prasarana di sekolah yang di pulau dengan di
darat, semuanya sama. Hanya kami melihat dari
asas manfaatnya, bahwa keberadaan laboratorium
komputer belum bisa diterapkan di sana karena
masalah pasokan listrik," pungkas Yanto.

Tidak ada komentar: