Cari Blog Ini

Posting blogger lewat email

username.secretword@blogger.com

Senin, 01 Desember 2014

Inflasi November 1,5 persen, hidup rakyat makin susah

Editor : Nurul Qomariyah
Rimanews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
inflasi November 2014 sebesar 1,5 persen. Dalam
catatan BPS, bulan November biasanya terjadi
inflasi cukup rendah bahkan terjadi deflasi. Namun,
adanya kenaikan harga BBM mulai 18 Oktober
membuat pergerakan inflasi mengalami anomali.
Kenaikan harga BBM membuat November 2014
terjadi inflasi hingga 1,5%. Dalam catatan BPS, pada
tiap November biasanya inflasi sangat rendah,
bahkan pada November 2009 lalu mengalami deflasi
0,03 persen. November 2010 inflasi tercatat
sebesar 0,6 persen, November 2011 sebesar 0,34
persen, November 2012 sebesar 0,07 persen, dan
pada November 2013 inflasi tercatat 0,12 persen.
“November biasanya deflasi, maka inflasi pun
sedikit,” kata Kepala BPS Suryamin dalam
konferensi persnya, Senin (1/12).
Namun, Suryamin mengatakan bahwa jika
dibandingkan dengan setelah kenaikan harga BBM
pada Juni 2013 lalu, inflasi November ini cukup
terkendali. BPS menilai waktu kenaikan harga BBM
tahun ini sangat tepat.
“November belum kena dampak seluruh hari. Harga
12 hari terakhir saja yang harga baru. 18 hari
pertama masih harga Rp 6.500 (premium). Ini
menunjukkan timing kenaikan harga BBM penting
diperhatikan, terbukti inflasi November 2014
rendah,” tambahnya.
Untuk inflasi tahun kalender dari Januari hingga
November mencapai 5,75 persen, atau lebih tinggi
dari target APBN-P 2014 yang sebesar 5,3%.
Sementara laju inflasi tahun ke tahun (YoY) sebesar
6,23 persen, inflasi komponen inti November 2014
sebesar 0,4 persen, dan inflasi inti tahun ke tahun
sebesar 4,21 persen.
Sebanyak 82 kota IHK seluruhnya mengalami
inflasi, karena dampak kenaikan BBM sudah
tergambar. Inflasi tertinggi terjadi di Padang
sebesar 3,34 persen, dan inflasi terendah ada di
Manokwari 0,07 persen.
Menurut kelompok pengeluaran, inflasi bahan
makanan pada November 2014 tercatat cukup tinggi
sebesar 2,15 persen. Suryamin menambahkan,
inflasi tahun kalender untuk kelompok bahan
makanan tercatat mencapai 7,12 persen,
sedangkan inflasi bahan makanan dari tahun ke
tahun (YoY) sebesar 7,97 persen.
“Ini walaupun menghasilkan inflasi 1,5 persen
(cukup rendah), tapi komoditi bahan makanan harus
hati-hati,” katanya.
Inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman,
rokok dan tembakau pada November 2014 tercatat
0,71 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas,
dan bahan bakar sebesar 0,49 persen, kelompok
kesehatan inflasi 0,43 persen. Sedangkan kelompok
pendidikan, rekreasi, dan olahraga inflasi 0,08
persen.
Kelompok sandang mengalami deflasi 0,08 persen
karena harga emas perhiasan (turun). Kelompok
tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan
mengalami inflasi 4,29 persen.
Lebih lanjut dia menjelaskan, menurut
komponennya, inflasi umum November 2014
tercatat sebesar 1,5 persen, inflasi komoditi inti
sebesar 0,4 persen, inflasi akibat harga yang diatur
pemerintah sebesar 4,2 persen, dan harga
bergejolak sebesar 2,37 persen.
Inflasi energi yang terbentuk dari kenaikan harga
bensin, solar, listrik, serta LPG sebesar 6,27
persen.
Sementara itu inflasi tahun ke tahun (YoY) menurut
komponennya tercatat inflasi umum sebesar 6,23
persen. Inflasi komponen inti YoY sebesar 4,21
persen yang menunjukkan bahwa fundamental
ekonomi masih cukup baik.
“Inflasi komponen inti masih di bawah inflasi
umum,” kata Suryamin.
Inflasi tahun ke tahun harga diatur pemerintah
cukup tinggi mencapai 11,39 persen, inflasi harga
bergejolak sebesar 7,06 persen, sementara inflasi
YoY komponen energi mencapai 15,85 persen.
Update : Nula
Sumber : Rimanews

Tidak ada komentar: