Belanja Iklan di TV Menurun, RCTI Tetap Paling Diminati Pengiklan
Belanja iklan di televisi yang diterima MNC Group kebanyakan berasal dari RCTI, sebesar Rp 9,943 triliun.
Angga Rulianto | 29 Desember 2015 15:00
Muvila.com – Tahun 2015 menunjukkan penurunan dari segi belanja iklan di stasiun televisi ketimbang tahun lalu. Apabila belanja iklan di televisi pada tahun lalu mencapai Rp 99 triliun (66 persen dari total pendapatan iklan secara nasional), maka tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai Rp 71,4 triliun. Adapun belanja iklan di stasiun televisi sampai 30 November lalu angkanya sebesar Rp 65,559 triliun.
Perkiraan ini merupakan data tayangan iklan TVC atau ads spot yang dikumpulkan Adstensity milik PT Sigi Kaca Pariwara selama 1 Januari s.d 30 November 2015. Lalu, stasiun televisi apa saja yang mendapatkan belanja iklan terbesar dari pengiklan? "Berdasarkan grup, MNC punya RCTI dan lain-lain menguasai 36 persen. Saingannya SCM 24 persen. Viva Group 17 persen," kata CEO Sigi Kaca Pariwira A Sapto Anggoro di Jakarta pada medio Desember ini.
Jadi, belanja iklan di televisi yang diterima MNC Group kebanyakan berasal dari RCTI, yang sebesar Rp 9,943 triliun, MNC TV sebesar Rp 7,9 triliun, dan Global TV Rp 5,4 triliun. Sedangkan, SCM Group sebagai pesaingnya menerima belanja iklan paling banyak sebesar Rp 8,8 triliun dari SCTV, kemudian Rp 7 triliun dari Indosiar. Sedangkan Viva Group menerima pemasukan dari belanja iklan di ANTV sebesar Rp 6,6 triliun, dan Rp 4,5 triliun dari TV One.
"Tiga tahun lalu Indosiar klepek-klepek begitu dipegang SCTV. Kalau acara, aplikasi melihat bahwa acara sekarang yang juara adalah acara Indosiar D'Academy Asia. Dari sore sampai malam iklannya banyak. Artinya kembali ke kreativitas," ujar A Sapto Anggoro.
Menurunnya jumlah belanja iklan di televisi pada tahun ini, dinilai Sapto, akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi. "Perlambatan ekonomi boleh jadi penyebab utama, yang ditandai oleh memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sehingga banyak rencana belanja iklan tidak dapat dieksekusi dengan baik,” papar Sapto.
Toh, walau belanja iklan di televisi menurun, Adstensity mencatat ada dua pemilik brand yang tetap jor-joran dalam mengiklankan produknya di televisi, yakni Djarum dan Sampoerna, dengan angka menembus Rp 1 triliun. Selain itu, ada dua brand pendatang baru dari industri e-commerce atau digital business yang langsung masuk daftar 10 besar pengiklan di televisi, yakni Tokopedia (posisi 9) dan Traveloka (posisi 10).
Masuknya iklan brand-brand dari industri e-commerce di televisi pada tahun ini memang menjadi fenomena yang menarik. Tahun lalu, Lazada dan Tokobagus (yang kini berganti nama jadi Olx) mendominasi belanja iklan di televisi, sedangkan tahun ini brand lain ikut ramai-ramai beriklan di televisi. Antara lain, Tokopedia, Olx, Bukalapak, Blibli, Traveloka, Trivago. Menurut data Adstensity, ada enam perusahaan e-commerce yang menggelontorkan dana promosinya lebih dari Rp 100 miliar di televisi.
Bagaimana dengan belanja iklan di televisi pada tahun depan? Sigi Kaca Pariwiara memperkirakan bahwa tahun depan angkanya mencapai Rp 85,68 triliun. Jumlah tersebut naik 20 persen dari belanja iklan di televisi tahun ini.
Adstensity sendiri adalah nama produk untuk perangkat ads TV monitoring yang dikembangkan oleh PT Sigi Kaca Pariwara. Aplikasi ini memantau aktivitas penyiaran, khususnya penayangan iklan TVC atau ads spot di 13 TV berskala nasional dan melakukan penghitungan kualitatif secara otomatis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar